Selasa, 14 Desember 2010

Askeb II

Menjahit Laserasi Perineum 


Tujuan Menjahit laserasi atau episiotomi adalah untuk menyatukan kembali jaringan tubuh (mendekatkan) dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu (memastikan hemostasis). Ingat bahwa setiap kali jarum masuk jaringan tubuh, jaringan akan terluka dan menjadi tempat yang potensial untuk timbulnya infeksi. Oleh sebab itu, pada saat menjahit laserasi atau episiotomi gunakan benang yang cukup panjang dan gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk mencapai tujuan pendekatan dan hemostasis.
Keuntungan-keuntungan tekhnik penjahitan jelujur
v  Mudah dipelajari (hanya perlu belajar satu jenis penjahitan dan satu atau dua jenis simpul).
v  Tidak terlalu nyeri karena lebih sedikit benang yang digunakan.
v  Menggunakan lebih sedikit jahitan

Mempersiapkan penjahitan
1.      Bantu ibu mengambil posisi litotomi sehingga bokongnya berada di tepi tempat tidur atau meja. Topang kakinya dengan alat penopang atau minta anggota keluarga untuk memegang kaki ibu sehingga ibu tetap berada dalam posisi litotomi.
2.      Tempatkan handuk atau kain bersih di bawah bokong ibu.
3.      Jika mungkin, tempatkan lampu sedimikian rupa sehingga perineum bias dilihat dengan jelas.
4.      Gunakan tekhnik aseptic pada memeriksa robekan atu episiotomi, memberikan anestesi local dan penjahit luka.
5.      Cuci tangan menggunakan sabun dan air yang bersih yang mengalir.
6.      Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
7.      Dengan menggunakan tekhnik aseptic, persiapkan peralatan dan bahan-bahan disinfeksi tingkat tinggi untuk penjahitan.
8.      Duduk dengan posisi santai dan nyaman sehingga luka bisa dengan mudah dilihat dan penjahitan bisa dilakukan tanpa kesulitan.
9.      Gunakan/kasa disinfeksi tingkat tinggi atau bersih untuk menyeka vulva, vagina dan perineum ibu dengan lembut, bersihkan darah atau bekuan darah yang ada sambil menilai dalam dan luasnya luka.
10.  Periksa vagina, serviks dan perineum secara lengkap. Pastikan bahwa laserasi / sayatan perineum hanya merupakan derajat 1 atau 2. jika laserasinya dalam atau episiotomi telah meluas, periksa lebih jauh untuk memeriksa bahwa tidak terjadi robekan derajat 3 atau 4. masukkan jari yang besar tangan kedalam anus denagn hati-hati dan angkat jari tersebut perlahan-lahan untuk mengidentifikasi spingter ani. Raba tonus atau ketegangan spingter. Jika spingter terluka, ibu mengalami laserasi derajat 3 atau 4 dan harus ditujuk segera. Ibu juga dirujuk jika mengalami laserasi serviks.
11.  Ganti sarung tangan dengan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril yang baru setelah melakukan pemeriksaan rectum.
12.  Berikan anestesi local
13.  Siapkan jarum (pilih jarum yang batangnya bulat, tidak pipih) dan benang. Gunakan benang kromik 2-0 atau 3-0. benang kromik bersifat lentur, kuat, tahan lama dan paling sedikit menimbulkan reaksi jaringan.
14.  Tempatkan jarum pada pemegang jarum dengan sudut 90 derajat, jepit dan jepit jarum tersebut.

Memberikan Anastesi Lokal
Berikan anastesi local pada setiap ibu yang memerlukan penjahitan laserasi atau episiotomi. Penjahitkan sangat menyakitkan dan menggunakan anastesi local merupakan asuhan saying ibu. Jika ibu dilakukan tindakan episiotomi dengan anastesi local, lakukan pengujian pada luka untuk mengetahui bahwa bahan anastesi masih bekerja. Sentuh luka dengan jarum yang tajam atau cubit dengan forceps atau cunam. Jika ibu merasa tidak nyaman, ulangi pemberian anastesi local.
Gunakan tabung suntik steril sekali pakai dengan jarum ukuran 22 panjang 4 cm. Jarum yang lebih panjang atau tabung suntik yang lebih besar digunakan, tapi jarum harus berukuran 22 atau lebih kecil tergantung pada tempat yang memerlukan anastesia. Obat standar untuk anastesi local adalah 1 % lidokain tanpa epinefrin (silokain). Jika lidokain 1% tidak tersedia, gunakan lidokain 2% yang dilarutkan dengan air steril atau normal salin dengan perbandingan 1:1 (sebagai contoh, larutan 5 ml lidokain 2% dengan 5 ml air steril atau normal saling untuk membuat larutan lidokain 1%).
  1. Jelaskan pada ibu apa yang akan anda lakukan dan Bantu ibu merasa santai.
  2. Hisap 10 ml larutan lidokain 1% ke dalam alat suntik sekali pakai ukuran 10 ml (tabung suntik yang lebih besar boleh digunakan, jika diperlukan). Jika lidokain 1% tidak tersedia, larutkan 1 bagian 2% dengan 1 bagian normal salin atau air steril yang sudah disulung.
  3. Tempelkan jarum ukuran 22 sepanjang 4 cm ke tabung suntik tersebut.
  4. Tusukkan jarum ke ujung atau pojok laserasi atau sayatan lalu tarik jarum sepanjang tepi luka (kea rah bawah di antara mukosa dan kulit perineum).
  5. Aspirasi (tarik pendorong jarum suntik) untuk memastikan bahwa jarum tidak berada di dalam pembuluh darah. Jika darah masuk ke tabung suntik, jangan suntikan lidokain dan tarik jarum seluruhnya. Pindahkan posisi jarum dan suntikan kembali.
Alasan: ibu bisa mengalami kejang dan kenmatian bisa terjadi jika lidokain disuntikan ke dalam pembuluh darah.
  1. Suntikan anastesi sejajar dengan permukaan luka pada saat jarum suntik perlahan-lahan.
  2. Tarik jarum hingga sampai kebawah tempat dimana jarum tersebut disuntikan.
  3. Arahkan lagi jarum ke daerah di atas tengah luka dan ulangi langkah ke-4 .tusukan jarum untuk ketiga kalinya dan sekali lagi ulangi langkah ke-4 sehingga tiga garis di satu sisi luka mendapatkan anestesi local. Ulangi proses ini di sisi lain dari luka tersebut. Setiap sisi luka akan memerlukan kurang lebih 5 ml lidokain 1% untuk mendapatkan anastesi yang cukup.
  4. Tunggu selama dua menit dan biarkan anastesia tersebut bekerja dan kemudian uji daerah yang dianestesia dengan cara dicubit dengan forcept atau disentuh dengan jarum yang tajam. Jika ibu merasakan jarum atau pijitan trsebut, tunggu dua menit lagi dan kemudian uji kembali sebelum mulai menjait luka.
Penjahitan laserasi pada perineum

  1. Cuci tangan secara seksama dan gunakan sarung tangan disinfeksi tinggi tinggi atau steril. Ganti sarung tangan jika sudah terkontaminasi, atau jika tersusuk jarum maupun peralatan tajam lainnya.
  2. Pastikan bahwa perawatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk melakukan penjahitan sudah disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
  3. Setelah memberikan anastesia local dan memastikan bahwa daerah tersebut sudah dianastesi, telusuri dengan hati-hati menggunakan satu jari untuk secara jelas menentukan batas-batas luka. Nilai kedalaman luka dan lapisan jaringan mana yang terluka. Dekatkan tepi laserasi untuk menentukan bagaimana cara menjahitnya menjadi satu dengan mudah.
  4. Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm diatas ujung laserasi dibagian dalam vagina. Setelah membuat tusukan pertama, buat ikatan dan potong pendek benang yang lebih pendek dari ikatan.
  5. Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit kebawah daerah cincin hymen.
  6. Tepat sebelum cincin himen, masukan jarum kedalam mukosa vagina lalu kebawah cincin himen sampai jarum ada dibawah laserasi.periksa bagian antara jarum diperineum dan bagian atas laserasi. Perhatikan seberapa dekat jarum ke puncak luka.
  7. Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka, menggunakan jahitan jelujur, hingga mencapai bagian bawah laserasi. Pastikan bahwa jarak setiap jahitan sama dan otot yang terluka telah dijahit. Jika laserasi meluas ke dalam otot, mungkin perlu untuk melakukan satu atau dua lapis jahitan terputus-putus untuk menghentikan perdarahan dan / atau mendekatkan jaringan tubuh secara efektif.
  8. setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas dan teruskan penjahitan, menggunakan jahitan jelujur untuk menutup lapisan subkuticuler. Jahitan ini akan menjadi jahitan lapis kedua. Periksa lubang bekas jarum tetap terbuka berukuran 0,5 cm atau kurang. Luka ini akan menutup dengan sendirinya pada saat penyembuhan luka.
  9. tusukan jarum dari robekan perineum ke dalam vagina. Jarum harus keluar dari belakang cincin hymen.
  10. ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina. Potong ujung benang dan sisakan sekitar 1,5 cm. jika ujung benang dipotong terlalu pendek, simpul akan longgar dan laserasi akan membuka.
  11. Ulang pemeriksaan vagina dengan lembut untuk memastikan bahwa tidak ada kasa atau peralatan yang ada di dalam.
  12. Dengan lembut masukkan jari paling kecil ke dalam anus. Raba apakah ada jahitan pada rectum. Jika ada jahitanyang teraba, ulani pemeriksaan rectum enam minggu pascapersalinan. Jika penyembuhan belum sempurna (misalkan jika ada fistula rektovaginal atau ibu melaporkan inkontinensia alvi atau feses), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
  13. Cuci daerah genital dengan lembut dengan sabun dan air disinfeksi tingkat tinggi, kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang lebih nyaman.
  14. Nasihati ibu untuk:
a)      Menjaga perineumnya selalu bersih dan kering.
b)      Hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineumnya.
c)      Cuci perineumnya dengan sabun dan air bersih yang mengalir tiga sampai empat kali perhari.
d)     Kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan lukanya. Ibu harus kembali lebih awal jika ia mengalami demam atau mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanya atau jika daerah tersebut menjadi lebih nyeri.

Ingat:
v   Tidak usah menjahit laserasi derajat satu yang tidak mengalami perdarahan dan mendekat dengan baik.
v   Gunakan sedikit mungkin jahitan untuk mendekatkan jaringan dan memastikan hemostasis.
v   Selalu gunakan tekhnik aseptic.
v   Jika ibu mengeluh sakit pada saat penjahitan dilakukan, berikan lagi anesthesia local untuk memastikan kenyamanan ibu, inilah yang disebut asuhan sayang ibu.

Penjahitan Episiotomi

Secara umum prosedur untuk menjahit episiotomi sama dengan menjahit laserasi perineum. Jika episiotomi sudah dilakukan, lakukan penilaian secara hati-hati untuk memstikan likanya tidak meluas. Sedapat mungkin, gunakan jahitan jelujur. Jika ada sayatan yang terlalu dalam hingga mencapai lapisan otot, mungkin diperlukan penjahitan secara terputus untuk merapatkan jaringan.

Wilujeung sumping... mangga Linggih...

Assalamu'alaikum... 
Salam sejahtera...
Akhirnya... Blog Ku jadi juga... Alhamdulillah. euhm, setelah sekian jam aku Ulik-Ulik (Maklum Pemula...) Inspirasi cika buat blog ini adalah dari kegagalanku yang pertama karena gak Lulus CPNS, hahay... :( but cika fikir, itu bukan akhir dari segalanya akan tetapi itu adalah awal dari segalanya karena dari kegagalan lah Mimpi-mipiku hadir, terus memberikan motivasi n pelajaran, karena hanya mimpilah yang aku punya... So, Teruslah bermimpi... CayO!!! ^_^
mari berkarya... ^_^

Bagi teman2 kebidanan... mudah2an apa yang cika simpan di blog ni dapat memberikan manfaat. Yuuk... Happy Searching !!
Wassalamu'alaikum